LAPORAN : Identifikasi Jentik Nyamuk Aedes aegypti

LAPORAN : Identifikasi Jentik Nyamuk Aedes aegypti

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Puja dan puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah swt. karena dengan hanya limpahan rahmat dan hidayah-Nyalah penulis dapat menyelesaikan laporan ini yaitu Identifikasi Jentik Nyamuk Aedes aegypti “. 

Dalam penyusunan dan penulisan laporan ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan serta dukungan dari berbagai pihak. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini penulis dengan senang hati menyampaikan terima kasih kepada yang terhormat :

  1. Bapak Rijal, AMAK., S.ST dan Bapak Haeril, Amd.AK., S.Si selaku dosen pengampuh mata kuliah praktikum Parasitologi II yang telah membantu dalam membimbing dalam pembuatan laporan ini.
  2. Ibu sebagai motivator penulis dan berkat jasa-jasa, kesabaran, dan doanya penulis mampu menyelesaikan laporan ini.

Semoga dengan disusunnya laporan ini, penulis dapat membagi ilmu dan manfaat serta menambah wawasan bagi para pembaca. Penulis menyadari laporan ini masih memiliki kekurangan maupun kesalahan baik dari segi penulisan kalimat dan rangkaian kata dan dengan rendah hati agar kiranya rekan-rekan sekalian dapat untuk memberikan saran dan kritikan yang membangun.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Gorontalo, November 2017

  Penyusun

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR …………………………………………………..    i

DAFTAR ISI ..……………………………………………………………    ii

DAFTAR GAMBAR …………………………………………………….    iv

DAFTAR TABEL ………………………………………………………     v

BAB I  PENDAHULUAN  ………….…………………………………..   1

  1. Latar Belakang ……………………………………………………….    1
  2. Rumusan Masalah ………………………………………………….     2
  3. Tujuan ………………………………………………………………     2
  4. Manfaat ……………………………………………………………..    2

BAB II  TINJAUAN PUSTAKA  ……..……………………………….     3

  1. Nyamuk Aedes aegypti …………………………….….……………      3
  2. Klasifikasi Nyamuk Aedes aegypti ………………….…….………..       4
  3. Morfologi Nyamuk Aedes aegypti …….……………….………….       4
  4. Sefalo …………………………………………………………       4
  5. Toraks …………………………………………………………       5
  6. Abdomen ………………………………………………………      6
  7. Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti …….………………..………       6
  8. Telur …………………..………………………………………       7
  9. Larva (Jentik) …………………………………………………..      8
  10. Pupa (Kepompong) …………………………………………….     9
  11. Imago (Dewasa) ……………………………………………….      10
  12. Bionomik Nyamuk Aedes aegypti …………..……………….…….      11
  13. Perilaku Mencari Makan ………………………………………       11
  14. Lingkungan Tempat Hidup ……………………………………      12
  15. Perilaku Istirahat ………………………………………………      13
  16. Faktor Yang Mempengaruhi Pertumbuhan Nyamuk Aedes aegypti .     13
  17. Faktor Fisik …………………………………………………….     13
  18. Linkungan Biotik ………………………………………………     15
  19. Lingkngan Kimia ………………………………………………      16
  20. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD) …….…………….…….      16

BAB III METODE KERJA ………………………………………….…     18

  1. Waktu dan Tempat ………….……………………………………..      18
  2. Alat dan Bahan ..……………….……………………………………    18
  3. Alat …………………………………………………………….      18
  4. Bahan ………………………………………………………….      18
  5. Prosedur Kerja ……….…………………………………………….      18

BAB IV HASIL DAN PEMBAHSAN …………………………………     19

  1. Hasil ………..………………………………………………………       19
  2. Pembahasan …….………………………………………………….       19

BAB V PENUTUP ………………………………….………………….     22

  1. Kesimpulan …………………………………………………………      22
  2. Saran ……………………………………………………………….      22

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN


DAFTAR GAMBAR

Gambar II.I         Morfologi Nyamuk  …………………………………       5

Gambar II.II      Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti…………..……       6

Gambar II.III      Telur Nyamuk Aedes aegypti …..…………….………       7

Gambar II.IV      Kiri) Larva Aedes aegypti tampak dari samping.
Kanan) Larva Aedes aegypti tampak dari atas ………      8

Gambar II.V       Pupa Nyamuk Aedes aegypti ……….…………..……       9

Gambar II.VI      Nyamuk Aedes aegypti Dewasa ………..…….………       10


DAFTAR TABEL

Tabel IV.I     Hasil Pengamatan Jentik Nyamuk Aedes aegypti …………    19

BAB I
PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Artropoda berasal dari bahasa Yunani yaitu athros, sendi dan podos, kaki. Oleh karena itu ciri utama hewan dalam filum ini adalah kaki yang tersusun atas ruas-ruas. Jumlah spesies anggota filum ini terbanyak dibandingkan dengan filum lainnya yaitu lebih dari 800.000 spesies. Dalam kajian parasitologi, sebagian besar artropoda merupakan vektor penyakit serta dapat bersifat sebagai parasit itu sendiri. Parasit pada umumnya mempunyai sifat yang merugikan bagi manusia. Hidupnya menumpang dan bertempat tinggal di tempat yang ditumpanginya dan merugikan bagi host yang ditumpanginya (Qiptiyah, 2014).

Parasit digolongan artropoda dapat berasal dari ordo Diptera. Anggota ordo Diptera yang paling dikenal oleh masyarakat selain lalat ialah nyamuk. Mendengar kata nyamuk mungkin sudah tidak terdengar asing lagi ditelinga setiap kalangan masyarakat. Makhluk hidup berukuran kecil tersebut hidup dan berkembang biak pada genangan-genangan air yang tercipta oleh manusia ataupun melalui alam. Nyamuk merupakan salah satu vektor penyebar parasit yang dapat mengganggu kehidupan manusia serta dapat menyebabkan penyakit yang serius. Misalnya nyamuk Aedes aegypti yang dapat menyebabkan penyakit DBD.

Menurut Nurhayati dan Ali (2006) di Indonesia, jumlah penderita DBD cenderung meningkat dan menyebar luas. Penyakit ini pertama kali berjangkit di Jakarta dan Surabaya pada tahun 1968. Dua puluh tahun kemudian, DBD telah berjangkit di 201 Dati II di seluruh Indonesia. Data terakhir menyebutkan bahwa tinggal seperempat bagian wilayah Indonesia yang belum terkena DBD. Peningkatan jumlah penderita terjadi secara periodik tiap lima tahun, bahkan beberapa kali menyebabkan Kejadian Luar Biasa (KLB) dimana jumlah pasien yang terkena sangat banyak, baik di perkotaan maupun pelosok pedesaan dengan angka kematian mencapai 2-4%. Meskipun saat ini angka kematian akibat DBD menunjukkanpenurunan, namun angka kesakitan (morbiditas) dan sebarannya masih tinggi. Oleh karenanya, dalam kajian penelitian dan kesehatan, nyamuk ini sering dijadikan bahan percobaan sehingga dapat menambah pengetahuan dan wawasan tentang nyamuk serta peranan dan dampaknya bagi manusia.

  1. Rumusan Masalah

Adapun rumusan masalah yang dapat diangkat dalam praktikum kali ini ialah sebagai berikut :

  1. Bagaimana struktur morfologi larva nyamuk Aedes aegypti?
  2. Bagaimana peran dan dampak nyamuk Aedes aegypti bagi manusia?
  3. Tujuan Praktikum

Adapun tujuan dalam praktikum kali ini ialah sebagai berikut :

  1. Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami struktur morfologi larva nyamuk Aedes aegypti.
  2. Agar mahasiswa dapat mengetahui dan memahami peran dan dampak nyamuk Aedes aegypti bagi manusia.
  3. Manfaat Praktikum

Adapun manfaat dalam praktikum kali ini ialah sebagai berikut :

  1. Memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mahasiswa mengenai struktur morfologi larva nyamuk Aedes aegypti.
  2. Memberikan pengetahuan dan pemahaman kepada mahasiswa mengenai peran dan dampak nyamuk Aedes aegypti bagi manusia.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

  1. Nyamuk Aedes aegypti

Nyamuk merupakan serangga yang memiliki tubuh berukuran kecil, halus, langsing, kaki-kaki atau tungkainya panjang langsing, dan mempunyai bagian mulut untuk menusuk kulit dan mengisap  darah yang disebut dengan proboscis. Nyamuk tersebar luas di seluruh dunia dari daerah kutub sampai daerah tropis, dapat dijumpai pada ketinggian 5.000 m  di atas permukaan laut sampai kedalaman 1.500 m di bawah permukaan tanah di daerah pertambangan. Karena keberadaannya menyebar di seluruh dunia, maka ektoparasit ini bersifat kosmopolit (Ginanjar, 2011).

Nyamuk termasuk serangga (Arthropoda: Insecta). Tubuhnya terbagi tiga bagian: kaput, toraks, abdomen. Pada kepala ada bagian mulut yang disebut probosis yang lurus ke depan (pada Tribus Culicini dan Anphelini) atau bagian depannya melengkung ke arah perut (Tribus Megarhini), sepasang antena, dan sepasang palpus maksilaris. Nyamuk jantan antena tipe plumose, yang betina tipe pilose. Tipe bag. mulut menusuk dan mengisap. Pada toraks melekat 3 pasang kaki, dan sepasang sayap, dan sepasang halter (sayap yang sangat mereduksi, bentuknya seperti halter) (Tobing, 2016).

Aedes aegypti adalah salah satu vektor nyamuk yang paling efisien untuk arbovirus, karena nyamuk ini sangat antropofilik dan hidup dekat manusia dan  sering hidup di dalam dan di luar rumah. Aedes aegypti lebih senang pada genangan air yang terdapat di dalam suatu wadah  atau kontainer, bukan genangan air di  tanah. Tempat perkembangbiakan yang potensial adalah Tempat Penampungan  Air  (TPA)  yang  digunakan  untuk keperluan sehari – hari seperti drum, bak mandi, bak WC, tempayan, ember dan  lain–lain. Tempat–tempat  perkembangbiakan lainnya  yang  non TPA adalah  vas  bunga,  pot  tanaman  hias,  ban  bekas, kaleng bekas,  botol  bekas, tempat minum burung dan  lain–lain. Tempat perkembangbiakan  yang paling disukai adalah yang berwarna gelap, terbuka lebar dan  terlindungi dari sinar matahari langsung (Rahayu dan Adil, 2013). 

  1. Klasifikasi Nyamuk Aedes aegypti

Menurut Ishartadiati (2010), klasifikasi nyamuk Aedes aegypti ialah sebagai berikut:

Kingdom               : Animala

Filum                     : Artropoda

Kelas                     : Insekta

Ordo                      : Diptera

Famili                    : Culicidae

Genus                    : Aedes

Species                  : Aedes aegypti

  1. Morfologi Nyamuk Aedes aegypti

Aedes aegypti dewasa berukuran  lebih kecil jika dibandingkan dengan ukuran nyamuk rumah  (Culex quinquefasciatus), mempunyai warna dasar yang hitam dengan bintik putih pada bagian badannya terutama pada bagian kakinya (Jamaludin, 2013).

Nyamuk Aedes aegypti L. Dewasa memiliki ukuran sedang (panjang 3 – 4 mm) dengan tubuh berwarna hitam kecoklatan. Tubuh dan tungkainya ditutupi sisik dengan garis-garis putih keperakan. Dibagian punggung (dorsal) tubuhnya tampak dua garis melengkung vertikel di bagian kiri dan kanan yang menjadi ciri species ini. Sisik pada tubuh nyamuk pada umunya mudah rontok atau terlepas sehingga menyulitkan identifikasi pada nyamuk-nyamuk tua. Ukuran dan warna nyamuk jenis ini kerap berbeda antar populasi, tergantung dari kondisi lingkungan dan nutrisi yang di peroleh nyamuk selama perkembangan. Nyamuk jantan dan betina pada dasarnya tidak memiliki perbedaan, dalam hal ukuran nyamuk jantan umumnya lebih kecil dari pada yang betina. Nyamuk jantan mempunyai rambut-rambut tebal pada antena nyamuk jantan. Kedua ciri ini dapat diamati dengan mata telanjang (Mariaty, 2010).

  1. Sefalo

Pada bagian kepala hampir seluruhnya tertutupi oleh sepasang mata majemuk. Pada bagian kepala terdapat  antena yang panjang (filiform). Pada nyamuk betina antena  tidak selebat pada antena nyamuk jantan. Antena betina disebut pilose sedangkan pada nyamuk jantan disebut plumose. Fungsi dari bulu-bulu yang lebat pada nyamuk jantan adalah sebagai alat bantu untuk mencari keberadaan nyamuk betina. Selain pada antena, penentuan jenis kelamin jantan dan betina dapat dilihat dari palpi maksilari. Pada nyamuk betina, palpi maksilari lebih pendek dari pada probosis, sedangkan palpi maksilari pada nyamuk jantan melebihi panjang probosis. Kepala nyamuk Aedes sp. berwarna hitam (Ginanjar, 2011)

Gambar II.I Morfologi Nyamuk
Sumber : Ginanjar (2011)

Toraks

Pada bagian toraks, nyamuk memiliki skutum yang agak keras yang berfungsi sebagai pelindung.  Pada bagian posterior toraks, terdapat  skutellum

yang berbentuk trilobus. Di samping itu, pada bagian ini juga terdapat halter yang berfungsi sebagai alat keseimbangan ketika terbang. Kaki nyamuk Aedes

  1. memiliki corak khusus, yakni pola belang-belang hitam dan putih. Kaki nyamuk terdiri atas tiga bagian yaitu, tungkai depan, tungkai tengah, dan tungkai belakang. Tiap tungkai terdiri atas femur, tibia, enam ruas tarsus, dan kuku. Warna, pola sisik, dan rambut pada toraks digunakan untuk membedakan genus dan spesies nyamuk.Aedes sp.toraks berwarna hitam, dengan memiliki corak putih pada dorsal (Ginanjar, 2011).
  2. Abdomen

Aedes sp. memiliki warna abdomen hitam dengan tergit berwarna belang-belang hitam dan putih. Sedangkan  Aedes  sp.  betina, memiliki ujung abdomen yang meruncing, dengan serkus yang menonjol keluar (Ginanjar, 2011).

  1. Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti

Dalam perkembangannya nyamuk mengalami metamorfosis sempurna (holometabola) yang diawali dengan stadium  telur, larva (jentik), pupa, dan dewasa (imago). Air merupakan faktor terpenting dalam perkembangan nyamuk, karena proses perkembangan pradewasa terjadi di dalam air (Ginanjar, 2011).

Gambar II.II Siklus Hidup Nyamuk Aedes aegypti
Sumber : Ishartadiati (2010)

  1. Telur

Aedes aegypti betina mampu meletakkan 80-100 butir telur setiap kali bertelur.  Pada waktu dikeluarkan, telur Ae. aegypti berwarna putih, dan berubah menjadi hitam dalam waktu 30 menit.  Telurnya berbentuk lonjong, berukuran kecil dengan panjang sekitar 6,6 mm dan berat 0,0113 mg, mempunyai torpedo, dan ujung telurnya meruncing. Di bawah mikroskop, pada dinding luar (exochorion) telur nyamuk  Ae. aegypti, tampak adanya garis-garis membentuk gambaran seperti sarang lebah (Sari, 2017).

Gambar II.III Telur Nyamuk Aedes aegypti.
Sumber : Mariaty (2010)

Nyamuk Ae. aegypti meletakkan telurnya satu persatu dengan menempelkannya pada wadah perindukan yaitu wadah yang tergenang air bersih seperti tempat penampungan air, ruas bambu, lubang pohon, ban bekas, dan vas bunga. Telur diletakkan satu demi satu dipermukaan air, atau sedikit dibawah permukaan air dalam jarak lebih kurang 2,5 cm dari tempat perindukan. Telur  Ae. aegypti dapat bertahan dalam waktu yang lama dalam kondisi kering yaitu hingga 6 bulan, dalam suhu 2⁰C – 4⁰C, namun akan menetas dalam waktu 1sampai 2 hari pada kelembaban rendah.  Menurut Brown (1962) telur yang diletakkan di dalam air kan menetas dalam waktu 1–3 hari pada suhu 30⁰C, tetapi membutuhkan waktu 7  hari pada suhu 16⁰C.  Kemudian telur dapat di tetaskan dengan meletakkannya pada kontainer yang berisi air bersih.  Namun tidak semua telur dapat menetas dalam waktu yang sama. Pada kondisi normal, telur Ae. aegypti yang direndam di dalam air akan menetas  sebanyak 80% pada hari pertama dan 95% pada hari kedua.  Berdasarkan jenis kelaminnya, nyamuk jantan akan menetas lebih cepat dibanding nyamuk betina, serta lebih cepat menjadi dewasa.  Faktor- faktor yang mempengaruhi daya tetas telur adalah suhu, pH air perindukkan, cahaya, serta kelembaban disamping fertilitas telur itu sendiri (Sari, 2017).

  1. Larva (Jentik)

Gambar II.IV Kiri) Larva Aedes aegypti tampak dari samping. Kanan) Larva Aedes aegypti tampak dari atas
Sumber : Mariaty (2010)

Perkembangan larva tergantung pada suhu, kepadatan populasi, dan ketersediaan makanan. Larva berkembang pada suhu sekitar lingkungan 28⁰C sekitar 10 hari, pada suhu air antara 30-40⁰C larva akan berkembang menjadi pupa dalam waktu 5–7 hari. Larva lebih menyukai air bersih, akan tetapi tetap dapat hidup dalam air yang keruh. Larva beristirahat di permukaan dan menggantung hampir tegak lurus. Larva akan berenang menuju dasar tempat atau wadah apabila tersentuh dengan gerakan jungkir balik. Larva mengambil oksigen di udara dengan berenang menuju permukaan dan menempelkan siphonnya di atas permukaan air (Mariaty, 2010).

Larva  Aedes aegypti L. memiliki empat tahapan perkembangan yang disebut instar meliputi : instar I, II, III dan IV, dan setiap pergantian instar ditandai dengan pergantian kulit yang disebut ekdisis. Larva instar IV mempunyai ciri siphon pendek, sangat gelap dan kontras dengan warna tubuhnya. Gerakan larva instar IV lebih lincah dan sensitif terhadap rangsangan cahaya. Dalam keadaan normal (cukup makan dan suhu air 25⁰–27⁰C) perkembangan larva instar ini sekitar 6–8 hari. Larva Aedes aegypti L. mempunya ciri-ciri sebagai berikut (Mariaty, 2010):

  1. Adanya corong udara pada segmen yang terakhir. 
  2. Pada segmen abdomen tidak ditemukan adanya rambut-rambut berbentuk kipas (Palmatus hairs).
  3. Pada corong udara terdapat pectin.
  4. Sepasang rambut serta jumbai akan dijumpai pada corong (siphon). 
  5. Pada setiap sisi abdomen segmen kedelapan terdapat comb scale sebanyak 8-21 atau berjajar 1 sampai 3.
  6. Bentuk individu dari comb scale seperti duri.
  7. Pada sisi thorax terdapat duri yang panjang dengan bentuk kurva dan adanya sepasang rambut di kepala.

Gambar II.V Pupa Nyamuk Aedes aegypti
Sumber : Mariaty (2010)

Pupa (Kepompong)

Larva instar IV akan berubah menjadi pupa yang berbentuk bulat gemuk    menyerupai tanda koma. Tubuh pupa terdiri dari sefalo, thorax dan abdomen.  Mempunyai corong pernafasan yang digunakan untuk bernafas pada thorax. Pada pupa terdapat kantong udara yang terletak diantara bakal sayap nyamuk dewasa dan terdapat sepasang sayap pengayuh yang saling menutupi sehingga memungkinkan pupa untuk menyelam cepat dan mengadakan serangkaian jungkiran sebagai reaksi terhadap rangsangan. Pupa merupakan tahapan yang tidak memerlukan makanan. Pupa nyamuk bergerak sangat aktif dan dapat berenang dengan mudah saat terganggu. Pupa bernapas dengan menggunakan tabung-tabung pernapasan yang terdapat pada bagian ujung kepala. Pupa Aedes akan menjadi dewasa dalam waktu 2-3 hari setelah sobeknya selongsong pupa oleh gelembung udara karena gerakan aktif pupa. Suhu untuk perkembangan pupa yang optimal adalah 27⁰C – 32⁰C.  Saat berubah menjadi stadium dewasa, pupa akan naik ke permukaan air.  Kemudian Abdomen akan muncul retakan pada bagian belakang permukaan pupa dan nyamuk dewasa akan keluar dari cangkang pupa (Sari, 2017).

  1. Imago (Dewasa)

Gambar II.VI Nyamuk Aedes aegypti Dewasa
Sumber : Jamaludin (2013)

Tubuh nyamuk dewasa terdiri dari 3 bagian, yatu kepala (caput), dada (thorax) dan perut (abdomen). Badan nyamuk berwarna hitam dan memiliki bercak dan garis-garis putih dan tampak sangat jelas pada bagian kaki dari nyamuk  Aedes aegypti. tubuh nyamuk dewasa memiliki panjang 5 mm. Pada bagian kepala terpasang sepasang mata majemuk, sepasang antena dan sepasang palpi, antena berfungsi sebagai organ peraba dan pembau. Pada nyamuk betina, antena berbulu pendek dan jarang (tipe pilose). Sedangkan pada nyamuk jantan, antena berbulu panjang dan lebat (tipe plumose). Thorax terdiri dari 3 ruas, yaitu prothorax, mesotorax, dan methatorax. Pada bagian thorax terdapat 3 pasang kaki dan pada ruas ke 2 (mesothorax) terdapat sepasang sayap. Abdomen terdiri dari 8 ruas dengan bercak putih keperakan pada masing-masing ruas. Pada ujung atau ruas terakhir terdapat alat kopulasi berupa cerci pada nyamuk betina dan hypogeum pada nyamuk jantan (Jamaludin, 2013).

Nyamuk jantan dan betina dewasa perbandingan 1:1, nyamuk jantan keluar terlebih dahulu dari kepompong, baru disusul nyamuk betina, dan nyamuk jantan tersebut akan tetap tinggal di dekat sarang, sampai nyamuk betina keluar dari kepompong, setelah jenis  betina keluar, maka nyamuk jantan akan langsung mengawini betina sebelum mencari darah. Selama hidupnya nyamuk betina hanya sekali kawin. Pada nyamuk betina, bagian mulutnya mempunyai probosis panjang untuk menembus kulit dan penghisap darah. Sedangkan pada nyamuk jantan, probosisnya berfungsi sebagai pengisap sari bunga atau tumbuhan yang mengandung gula. Nyamuk Aedes aegypti betina umumnya lebih suka menghisap darah  manusia karena  memerlukan protein yang terkandung dalam darah untuk pembentukan telur agar dapat menetas jika dibuahi oleh nyamuk jantan. Setelah dibuahi nyamuk betina akan mencari tempat hinggap di tempat tempat yang agak gelap dan lembab sambil menunggu pembentukan telurnya, setelah menetas telurnya diletakkan pada tempat yang lembab dan basah seperti di dinding bak mandi, kelambu, dan kaleng-kaleng bekas yang digenangi air (Jamaludin, 2013).

  1. Bionomik Nyamuk Aedes aegypti
  2. Perilaku Mencari Makan

Ae. aegypti bersifat diurnal yaitu aktif pada pagi dan siang hari.  Nyamuk Ae. aegypti betina memiliki kebiasaan  menghisap darah pada pagi dan sore hari yaitu antara pukul 08.00 hingga 12.00 dan 15.00 hingga 17.00.  Jenis darah yang disukai oleh nyamuk ini ialah darah manusia. Setelah menghisap darah, nyamuk betina akan mencari tempat beristirahat yang aman untuk mengubah darah menjadi telur.  Nyamuk betina biasanya beristirahat di tempat-tempat dengan vegetasi yang padat, lubang-lubang pohon, kandang hewan, atau bebatuan selama 2 sampai 4 hari hingga telur berkembang secara utuh.  Setelah itu nyamuk betina akan terbang dari tempat peristirahatannya pada sore atau malam hari untuk mencari tempat untuk meletakkan telur, kemudian nyamuk betina akan menghisap darah lagi untuk mengulang siklus (Sari, 2017).

Waktu nyamuk mulai mengisap darah sampai telur dikeluarkan, biasanya bervariasi antara 3-4 hari jangka waktu tersebut disebut dengan satu siklus gonotropik (gonotropic cycle). Nyamuk betina ini mempunyai kebiasaan mengisap darah berulang kali (multiple bites) dalam satu siklus gonotropik yang bertujuan untuk memenuhi lambungnya dengan darah.  Namun nyamuk betina ini bersifat antropofilik yaitu lebih menyukai darah manusia dibandingkan  darah hewan. Siklus gonotropik ada beberapa macam yaitu (Sari, 2017):

  1. Gonotropik concordance yaitu waktu nyamuk mulai mengisap darah yang  pertama kali sampai bertelur.
  2. Gonitropik discordance yaitu waktu nyamuk mulai mengisap darah untuk yang pertama kali, kemudian darah dicerna dahulu lalu nyamuk menghisap   darah lagi berkali – kali sampai bertelur.
  3. Gonotropik association yaitu nyamuk menghisap darah namun tidak bertelur   sampai musim hujan terdapat genangan air untuk tempat bertelur,dan selama itu nyamuk tidak menghisap darah lagi.
  4. Gonotropik dissociation yaitu nyamuk tetap menghisap darah selama musim kering namun tidak bertelur dan akan bertelur setelah musim hujan datang
  5. Lingkungan Tempat Hidup

Secara bioekologis spesies nyamuk  Aedes  aegypti mempunyai dua habitat,

yaitu: perairan untuk fase pradewasanya (telur, larva, dan pupa), dan daratan atau udara untuk nyamuk dewasa. Walaupun habitat nyamuk dewasa di daratan atau udara, akan tetapi nyamuk ini juga mencari tempat di dekat permukaan air untuk meletakkan telurnya. Bila telur yang diletakkan nyamuk tersebut tidak mendapat sentuhan air atau kering, telur tersebut masih mampu bertahan hidup antara 3 bulan sampai satu tahun. Masa hibernasi telur-telur itu akan berakhir atau menetas bila sudah mendapatkan lingkungan yang cocok pada musim  hujan untuk menetas. Terlur nyamuk akan menetas antara 3 – 4 jam setelah mendapat genangan air menjadi larva. Habitat larva yang keluar dari telur tersebut hidup mengapung di bawah permukaan air. Perilaku hidup larva tersebut berhubungan dengan upayanya menjulurkan alat pernafasan yang disebut sifon, menjangkau permukaan air guna mendapatkan oksigen untuk bernafas. Habitat seluruh masa pradewasanya dari telur, larva dan pupa hidup di dalam air walaupun kondisi airnya sangat terbatas (Hamzah, 2010).

Aedes aegypti  lebih menyukai tempat di dalam rumah penduduk, berbeda dengan Aedes albopictus yang lebih menyukai tempat di luar rumah penduduk, yaitu hidup di pohon atau kebun atau kawasan pinggir hutan. Di dalam rumah  Aedes aegypti seringkali hinggap pada pakaian yang digantung untuk beristirahat dan bersembunyi, menantikan saat tepat inang datang untuk mengisap darah. Informasi tentang habitat dan kebiasaan hidup nyamuk tersebut sangat penting untuk mempelajari dan memetakan keberadaan populasinya untuk tujuan pengendaliannya baik secara fisik-mekanik, biologis maupun kimiawi. Dengan demikian, sarang telur Aedes aegypti paling banyak ditemukan di wadah air rumah tangga buatan manusia (Hamzah, 2010).

  1. Perilaku Istirahat

Perilaku istirahat untuk nyamuk memiliki dua arti yaitu istirahat yang sebenarnya selama waktu menunggu proses perkembangan telur dan istirahat sementara yaitu pada waktu nyamuk sedang mencari darah. Pada umumnya nyamuk memillih tempat yang teduh, lembab, dan aman untuk beristirahat. Nyamuk Aedes aegypti L. lebih suka hinggap di tempat-tempat yang dekat tanah (Mariaty, 2010).

  1. Faktor Yang Mempengaruhi Perkembangbiakan Nyamuk Aedes aegypti

Faktor lingkungan yang mempengaruhi perkembangbiakan Ae. aegypti yaitu (Sari, 2017):  

  1. Faktor fisik
  2. Suhu

Lama perkembangan dan kematian larva  Ae.  aegypti sangat dipengaruhi oleh suhu. Pada suhu yang rendah, perkembangan larva akan memerlukan waktu hingga  menjadi dewasa. Temperatur optimum untuk perkembangan larva adalah 25⁰C-30⁰C. Serangga memiliki kisaran suhu tertentu dimana dia dapat hidup.  Di luar kisaran suhu  tersebut, serangga akan mati kedinginan atau kepanasan. Pada umumnya kisaran suhu yang efektif adalah suhu minimum 15⁰C, suhu optimum 25⁰C, dan suhu maksimum 45⁰C.  Rata-rata suhu optimum untuk pertumbuhan nyamuk adalah 25⁰C – 27⁰C dan pertumbuhan nyamuk akan berhenti sama sekali bila suhu kurang dari 10⁰C atau lebih dari 40⁰C.

  1. Kelembaban 

Kelembaban yang dimaksudkan adalah kelembaban tanah, udara, dan tempat hidup serangga dimana merupakan faktor penting yang mempengaruhi distribusi, kegiatan, dan perkembangan serangga.  Pada kelembaban yang sesuai, serangga biasanya lebih tahan terhadap suhu ekstrim.  Kelembaban udara yang berkisar 81,5 – 89,5% merupakan kelembaban yang optimal untuk proses embriosasi dan ketahanan hidup embrio nyamuk.  Kelembaban optimum dalam proses perkembangbiakan larva nyamuk berkisar antara 60 % – 80 % dan batas terendah kelembaban yang memungkinkan kehidupan nyamuk adalah kelembaban 60%.  Kelembaban diatas 60 % mendukung perkembangbiakan nyamuk. Adanya suhu tinggi dan kelembaban yang rendah dapat memperpendek umur nyamuk.  Hal ini  karena nyamuk merupakan serangga yang melakukan pernafasan dengan menggunakan trakea dan spirakel. Saat kelembaban lingkungan turun, maka spirakel akan terbuka lebar dan menyebabkan terjadinya penguapan dari dalam tubuh nyamuk. Penguapan terjadi karena tidak adanya mekanisme yang mengatur proses keluar masuknya udara dari dalam tubuh nyamuk ke lingkungan.  Hal ini menyebabkan gangguan terhadap proses respirasi larva akan memperpendek umur larva. 

  1. Curah hujan

Terdapat hubungan langsung antara curah hujan dan perkembangan  larva nyamuk menjadi nyamuk dewasa. Besar kecilnya pengaruh, bergantung pada jenis vektor, derasnya hujan dan jenis tempat perindukan.                                                                                  

Hujan yang diselingi oleh panas, akan memperbesar kemungkinan berkembang-biaknya nyamuk. Hujan merupakan salah satu faktor yang menyebabkan nyamuk akan lebih sering bertelur dan tentunya akan lebih banyak individu nyamuk dihasilkan. Adanya curah hujan yang tinggi menyebabkan banyaknya genangan yang dapat menjadi tempat perindukan nyamuk. Curah hujan pada kisaran 140 mm dapat menghambat perkembangbiakan pada larva nyamuk, sedangkan curah hujan pada kisaran 310 mm dan 575 mm tidak mendukung kehidupan larva Ae. aegypti.

  1. Ketinggian Tempat

Pada daerah di daratan tinggi umumnya memiliki suhu lingkungan yang rendah. Ketinggian tempat sering dikaitkan dengan adanya proses penurunan suhu sehingga jenis nyamuk pada daerah daratan tinggi akan lebih sedikit 24 dibandingkan dengan daratan rendah yang cenderung memiliki suhu yang lebih hangat.

  1. Lingkungan biotik

Tumbuhan atau tanaman air seperti ganggang dapat mempengaruhi kehidupan larva nyamuk, karena dapat menghalangi sinar matahari yang masuk atau melindungi dari serangan serangga lain.  Tumbuhan juga menyediakan kebutuhan oksigen yang sangat diperlukan oleh larva terkait proses respirasinya.  Oksigen yang di hasilkan oleh tumbuhan merupakan hasil dari proses fotosintesis yang dilakukan oleh tumbuhan.  Selain itu kelangsungan hidup larva nyamuk dipengaruhi oleh ketersedian makanan dan kepadatan larva dalam wadah. Pengendalian nyamuk secara alami juga dilakukan dalam proses biologis, antara lain beberapa jenis predator, seperti ikan yang dapat memakan larva nyamuk yang hidup di kolam maupun sungai yang dapat digunakan sebagai tempat perindukan.  Hal ini sesuai dengan ekologi pada larva nyamuk yang berkaitan erat dengan proses rantai makanan yang ada, dimana larva nyamuk merupakan konsumen primer yang akan dimangsa oleh konsumen sekunder yang kehadirannya sangat penting dalam keseimbangan ekosistem.



  1. Lingkungan Kimia

Diketahui bahwa pH, kebutuhan oksigen, oksigen terlarut, dan karbon dioksida yang terkandung dalam air dapat mempengaruhi proses perkembangbiakan nyamuk.  Masing–masing jenis nyamuk memiliki toleransi terhadap nilai pH yang berbeda-beda. pH merupakan satuan nilai yang menentukan kondisi asam basa. Kondisi asam basa banyak dipengaruhi oleh jenis lingkungan yang ada.  Hal ini menyebabkan terjadinya perbedaan nilai pH dari tiap-tiap tempat perindukan nyamuk yang dipengaruhi oleh perbedaan lingkungan.  Oksigen terlarut pada air di tempat perindukan diketahui dapat mencukupi kebutuhan  oksigen larva nyamuk Aedes sp dengan nilai 4,3 mg/l.  Kadar oksigen terlarut dipengaruhi oleh aktivitas fotosintesis yang ada diperairan tersebut dan hal ini sangat dipengaruhi oleh tipe vegetasinya.

  1. Penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD)

Penyakit Deman Berdarah Dengue (DBD) merupakan salah satu masalah kesehatan masyarakat Indonesia yang semakin luas penyebarannya. Penyakit DBD merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh virus dengue dan ditularkan melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti.  Masa inkubasi penyakit DBD, yaitu periode sejak virus dengue menginfeksi manusia hingga menimbulkan gejala klinis, antara 3-14 hari, rata-rata 4-7 hari. Penyakit DBD tidak ditularkan langsung dari orang ke orang. Penderita menjadi infektif bagi nyamuk pada saat viremia, yaitu beberapa saat menjelang timbulnya demam hingga saat masa demam berakhir, biasanya berlangsung selama 3-4 hari. DBD adalah penyakit demam virus akut yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti  disebabkan oleh virus DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4, yang dapat menimbulkan gejala klinis seperti demam tinggi, timbul bintik-bintik merah pada kulit, perdarahan pada hidung dan gusi, lemah dan lesu, kadang-kadang disertai dengan shock karena tekanan darah menurun menjadi 20mmHg atau kurang (Hamzah, 2010).

Tanda dan gejala pada penyakit demam berdarah diawali dengan mendadak panas meningkat selama 2-7 hari, tampak lemah dan lesu, suhu badan antara 38º C – 40ºC, terjadi penularan pada hidung dan gusi, rasa sakit pada otot dan persendian, timbul bintik-bintik merah pada kulit akibat pecahnya pembuluh darah, kadang-kadang disertai dengan shock karena tekanan darah menurun menjadi 20mmHg atau kurang. Tekanan sistolik sampai 80 mmHg atau lebih  rendah, manifestasi perdarahan, dengan bentuk uji tourniquet positif puspura perdarahan, konjungtiva, epitaksis, dan melena, dan gejala klinik lainnya yang dapat menyertai: anoreksia, lemah, mual, muntah, sakit perut, diare, kejang, dan sakit kepala. Derajat berat penyakit DBD secara klinis dibagi menjadi 4 derajat yaitu Derajat I ditandai dengan demam disertai gejala klinis lain tanpa perdarahan spontan, Derajat II ditandai dengan derajat I dan disertai perdarahan spontan pada kulit atau di tempat lain, Derajat III, ditemukan kegagalan sirkulasi yaitu nadi cepat dan lemah, tekanan darah rendah (hipotensi), gelisah, sianosis sekitar mulut, hidung, dan ujung jari (tanda-tanda dini renjatan), dan Derajat IV, ditandai dengan renjatan berat (DSS) dengan nadi tidak teraba dan tekanan darah tidak dapat diukur (Hamzah, 2010).


BAB III
METODE PRAKTIKUM

  1. Waktu dan Tempat

Adapun pelaksanaan praktikum mengenai “Identifikasi Jentik Nyamuk Aedes aegypti” dilakukan pada :

Hari/Tanggal   : Kamis, 16 November 2017

Pukul               : 10.00 – 12.00 WITA

Tempat            : Ruang Laboratorium Mikrobiologi STIKes Bina Mandiri

 Gorontalo

  1. Alat dan Bahan
  2. Alat

Adapun alat-alat yang akan digunakan pada praktikum kali ini ialah sebagai beirkut :

  1. Mikroskop
  2. Object glass
  3. Wadah plastik
  4. Pipet tetes
  5. Bahan

Adapun bahan-bahan yang akan digunakan pada praktikum kali ini ialah sebagai berikut :

  1. Jentik nyamuk Aedes aegypti
  2. Larutan KOH
  3. Prosedur Kerja

Adapun prosedur kerja yang akan dilakukan ialah sebagai berikut :

  1. Digunakan Alat Pelindung Diri (APD).
  2. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
  3. Diambil larva (jentik) nyamuk dengan pipet dan diteteskan pada object glass.
  4. Teteskan jentik tersebut dengan larutan KOH.
  5. Diamati larva (jentik) pada mikroskop dengan pembesaran 4-10x pembesaran.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

  1. Hasil

      Berdasarkan identifikasi Jentik Nyamuk Aedes aegypti, hasil yang dapat diperoleh ialah sebagai berikut :

Gambar Manual

Gambar

Keterangan :

1.      Kepala

6.      Sifon

2.      Antenna

7.      Anal Gill

3.      Antenna Hair (rambut antenna)

8.      Comb scale

4.      Toraks

9.      Lateral Hair (rambut lateral)

5.      Abdomen

Tabel IV.I Hasil Pengamatan Jentik Nyamuk Culex sp

  1. Pembahasan

 Nyamuk merupakan hewan Arthropoda yang tergolong dalam kelas Insecta ordo Diptera. Persebaran nyamuk terjadi hingga diseluruh belahan dunia, tidak terkecuali di Indonesia. Salah satu jeni nyamuk yang ada di Indonesia ialah nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk Aedes aegypti sebagai filum Arthropoda menyebabkan secara morfologis bentuknya tubuh menurut Irianto (2013) yaitu ditandai oleh bangunan yang simestris bilateral. Semua anggota filum ini mempunyai tubuh bersegmen yang terbungkus dalam suatu rangka (eksoskeleton) dari bahan kitin. Rangka luar ini bersendi dan berfungsi menutupi dan dan melindungi alat-alat dalam serta memberi bentuk pada tubuh. Rangka luar diekskresikan oleh epidermis dan mengalami pergantian kulit (eksdisis). Hewan ini mempunyai mata majemuk (faset) atau mata tunggal (oselus). Tubuh arthropoda dibagi atas tiga bagian utama yaitu, kepala (kaput/Sefalo), dada (toraks), dan perut (abdomen).

Selain itu, nyamuk Aedes aegypti tergolong dalam kelas Insecta karena memiliki 3 pasang kaki atau 6 buah kaki. Hal ini sesuai dengan namanya, menurut Irianto (2013) Insecta disebut juga Hexapoda (Yunani, Hexa adalah enam dan Podos adalah kaki). Nyamuk Culex sp juga termasuk dalam ordo Diptera yaitu menurut Irianto (2013) Di artinya dua dan Ptera artinya sayap. Hewan ini bersayap satu atau dua pasang.

Struktur morfologi jentik nyamuk Aedes aegypti ialah memiliki kepala (Sefalo), dada (Toraks) dan perut (Abdomen) sama halnya dengan yang dimiliki oleh nyamuk Aedes aegypti dewasa. Namun, bentuk jentik ialah bentuk dimana struktur morfologinya masih belum sempurna (masih dalam bentuk larva). Kepala (Sefalo) merupakan bagian tubuh jentik yang paling utama. Morfologi larva nyamuk Aedes aegypti bagian kepala ialah terdapat sepasang antenna dimana sepasang antenna tersebut memiliki sepasang rambut (antenna hair). Selain itu terdapat juga tidak memiliki mouth brush yaitu rambut disekitar mulut dari jentik dan tidak memiliki rambut palma (palmatus hairs).

Jentik nyamuk Aedes aegypti memiliki toraks namun fungsinya hanya sebagai tempat perlekatannya perut (abdomen). Pada toraks juga terdapat duri-duri panjang yang terletak di sisi toraks. Hal ini juga disebutkan oleh Mariaty (2010) bahwa pada sisi thorax terdapat duri yang panjang dengan bentuk kurva. Pada bagian abdomen terdapat segmen (ruas-ruas). Dari hasil pengamatan terdapat kurang lebih sekitar 7 segmen pada abdomen jentik nyamuk Aedes aegyti. Pada segmen terakhir terdapat Comb scale yang berbentuk seperti duri. Comb scale hanya terdiri atas sebaris duri.

Selain itu, pada bagian posteriornya dibagi menjadi dua bagian yaitu sifon dan anal gill. Sifon merupakan alat yang digunakan jentik untuk bernapas. Ukuran sifon untuk jentik nyamuk Aedes aegyti ialah lebih pendek daripada nyamuk Culex sp. dan ujungnya menghadap ke permukaan. Sedangkan anal gill merupakan alat yang digunakan sebagai insang.

Jentik nyamuk merupakan fase untuk memenuhi kebutuhan nutrisi agar dapat berbah menjadi kepompong yaitu fase inaktif yang tidak memerlukan makanan. Menurut Ginanjar (2011) bagi seekor nyamuk stadium larva ini merupakan stadium makan. Kebanyakan jenis larva memakan alga dan kotoran organik, tetapi beberapa bersifat pemangsa dan makan larva nyamuk lain. Dalam kondisi yang sesuai, larva nyamuk akan berkembang dalam waktu 6-8 hari sejak dari larva stadium pertama (instar I) hingga stadium terakhir (instar IV), dan akan berubah menjadi pupa (kepompong).

Menurut Ginanjar (2011) pada fase jentik memiliki ciri-ciri yaitu jentik kecil yang menetas dari telur akan tumbuh menjadi besar, panjangnya 0–1 cm. Jentik nyamuk Aedes aegeptyi selalu bergerak aktif dalam air. Gerakannya berulang-ulang dari bawah ke atas permukaan air untuk bernafas, kemudian turun kembali ke  bawah untuk mencari makanan dan seterusnya. Selain itu, untuk membedakan jentik nyamuk Aedes aegypti dengan Anopheles ialah pada waktu istirahat, posisinya hampir tegak lurus dengan permukaan air (bergantung dengan memberntuk posisi vertikal dengan permukaan air). Biasanya berada di sekitar dinding tempat penampungan air. Sedangkan Anopheles posisi istirahatnya sejajar dengan permukaan air. Hal ini terjadi karena jentik nyamuk Aedes aegypti bernapas menggunakan sifon yang mengharuskan tabung sifon berada dipermukaan air sehingga jentik akan terlihat seperti membentuk sudut dengan bagian kepala berada dibagian bawah tetapi sifon berada diatas.

Jentik nyamuk Aedes aegypti kemudian akan bermetamorfosis menjadi pupa (kepompong) yang selanjutnya menjadi nyamuk Aedes aegypti dewasa. Nyamuk Aedes aegypti dewasa merupakan vektor yang dapat menyebabkan penularan penyakit yang disebabkan oleh virus. Virus yang ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti ialah virus Dengue yaitu virus yang mampu menginfeksi manusia sehingga dapat terserang penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).

BAB V
PENUTUP

  1. Kesimpulan

Berdasarkan hasil dan pembahasan, kesimpulan yang diperoleh dari laporan kali ini ialah sebagai berikut :

  1. Struktur morfologi jentik nyamuk Aedes aegypti ialah terdiri dari kepala (sefalo), dada (toraks) dan perut (abdomen)Bagian kepala terdapat sepasang antenna yang memiliki rambut (antenna hairs), dan tidak memiliki mouth brush dan palmatus hairs. Pada bagian dada terdapat rambut lateral sampai pada abdomen serta merupakan tempat perlekatan abdomen. Pada bagian perut terdapat 7 segmen, posterior abdomen terdapat comb scale berbentuk duri dalam sebaris dan terdapat juga sifon yang pendek dan anal gill.
  2. Jentik nyamuk Aedes aegypti yang telah tumbuh menjadi nyamuk dewasa berperan penting sebagai vektor penularan dari virus Dengue yang dapat menyebabkan penyakit Demam Berdarah Dengue (DBD).
  3. Saran

Saran yang dapat disampaikan oleh praktikan ialah perlu untuk melakukan praktikum kembali. Hal ini diutarakan karena pada praktikum sebelumnya jentik yang dilakukan identifikasi hanyalah jentik dari nyamuk Aedes aegypti tanpa jenis jentik dari nyamuk lain. Hal ini menyebabkan praktikan tidak dapat membandingkan morfologi antara jentik nyamuk Aedes aegypti dengan jentik nyamuk lainnya. Oleh karena itu, dengan dilakukannya praktikum kembali praktikan dapat melakukan perbandingan antara jentik nyamuk Aedes aegypti dengan jenis jentik nyamuk lainnya seperti Culex sp, Anopheles dan Mansonia.

DAFTAR PUSTAKA

Ginanjar, Rizqy Arif. 2011. Densitas dan Perilaku Nyamuk (Diptera : Culicidae) di Desa Bojong Rangkas Kabupaten Bogor. Institut Pertanian Bogor. Jawa Barat

Hamzah, Amir. 2010. Model Populasi Nyamuk Aedes aegypti. Institut Teknologi Bandung. Jawa Barat

Irianto, Koes. 2013. Parasitologi Medis (Medical Parasitology). Alfabeta : Bandung

Ishartadiati, Kartika. 2010. Aedes aegypti Sebagai Vektor Demam Berdarah Dengue. Universitas Wijaya Kusuma Surabaya. Jawa Timur

Jamaludin, Sulaiman. 2013. Efektivitas Pemberian Ekstrak Ethanol 70 % Daun Kecombrang (Etlingera elatior) Terhadap Larva Instar III Aedes aegypti sebagai Biolarvasida Potensial. Universitas Lampung. Bandar Lampung

Mariaty, Putu Diah. 2010. Pemanfaatan Ekstrak Daun, Biji, Dan Daging Buah Cabai Rawit (Capsicum frutescen L.) Sebagai Larvasida Nyamuk Aedes aegypti L. Universitas Atma Jaya Yogyakarta. Jawa Tengah

Nurhayati, Siti., dan Ali Rahayu. 2006. Potensi Teknik Nuklir dalam Pengendalian Nyamuk Aedes aegypti Sebagai Vektor Penyakit Demam Brdarah Dengue. Badan Pengawas Tenaga Nuklir. Yogyakarta

Qiptiyah, M. 2014. Arthropoda. Universitas Islam Negeri Malang. Jawa Timur

Rahayu, Diah Fitri., dan Adil Ustiawan. 2013. Identifikasi Aedes aegypti Dan Aedes albopictus. Balai Penelitian dan pengembangan. Banjarnegara

Sari, Muna. 2017. Perkembangan Dan Ketahanan Hidup Larva  Aedes aegypti  Pada Beberapa Media Air Yang Berbeda. Universitas Lampung. Bandar Lampung

Tobing, S. Walsen Pangihutan L. 2016. Budidaya Larva Nyamuk (Culex sp). Universitas Lampung. Bandar Lampung

 


LAMPIRAN

Posterior Abdomen Terdapat Sifon

Sefalo Terdapat Sepasang Antena Hair

Jentik Nyamuk Aedes aegypti

Leave a Reply

Your email address will not be published.